Sekilas Info

BERITA KOTA

gedung-peninggalan-kolonial-dengan-proyektor-film-2
Damanuri (59) tampak sedang membersihkan ruang proyektor di gedung wisma patra (In de Oli).
Tarakan,- Dalam kurun waktu 40 tahun sejak 1897 awal kedatangannya, Kolonial Belanda mulai membangun berbagai fasilitas pendukung guna menunjang para pekerja minyaknya, mulai dari perumahan, barak tentara, sarana kesehatan, sarana olah raga, insfrastruktur jalan hingga sarana hiburan dan gedung sosialita.

Hingga saat ini kita masih dapat menjumpai beberapa sisa peningalan Belanda berupa gedung-gedung tempat fasilitas pekerja tambang, baik yang masih berfungsi maupun tidak, seperti halnya kolam renang dan lapangan tenis Wisma Patra yang sampai saat ini masih dapat digunakan masyarakat sebagai sarana olah raga. Selain itu perumahan pertamina eks perumahan BPM dan beberapa menara minyak serta benteng atau bunker-bunker yang merupakan saksi sejarah masih dapat kita jumpai.

Gedung Wisma Patra (In de Oli) merupakan salah satu gedung peningalan belanda yang saat ini masih berfungsi dengan menyisakan sebuah cerita sejarah. Pada masa lalu gedung ini merupakan salah satu tempat hiburan orang-orang Belanda, baik itu sebagai tempat perayaan ulang tahun Ratu Belanda, atau menampilkan penyanyi-penyanyi ternama eropa, pementasan teater hingga tempat pemutaran film.

Pada Waktu itu orang-orang Belanda mendirikan suatu lembaga berupa klab atau perkumpulan yang dinamakan societeit. Orang eropa di Tarakan secara rutin berkumpul dan bersosialita digedung yang saat itu terbilang sangat megah yang diberi nama In de Oli sekang bernama Wisma Patra.

Gedung In de Oli, merupakan lingkaran pergaulan kalangan atas bagi orang-orang tambang minyak bumi yang merupakan para pejabat tinggi BPM dan pejabat tinggi Militer. Societeit, sebagai bentuk hegemoni masyarakat eropa di hindia belanda sebagai masyarakat elit, yang berbeda dengan masyarakat timur asing atau bahkan pribumi.

Bangunan (wisma patra) yang saat ini oleh Dinas Pariwisata Tarakan dijadikan sebagai salah satu warisan sejarah memang dahulunya dirancang untuk kegiatan-kegiatan hiburan bagi kalangan elit. Sehingga bangunan ini masih menyisakan bukti sejarah, hal ini dibuktikan dengan terdapatnya sebuah ruangan kecil tersembunyi yang tidak banyak diketahui orang tepatnya dibagian belakang atas langit-langit gedung ini. yang digunakan untuk meletakkan beberapa buah proyektor pemutar Film.

Ruangan kecil pengap berdebu berukuran 5x3 meter persegi masih menyimpan barang-barang yang digunakan bangsa belanda kala masih menduduki Indonesia di Tarakan. Ruang ini seolah menjadi saksi bisu dimana peralatan berupa proyektor besar dan berukuran kecil, dengan dilengkapi alat-alat pendukung lainnya seperti, enlarger, gramafon, rol film hingga gardu kelistrikan yang masih terlihat utuh.

Damanuri (59) penjaga gedung Wisma Patra (in de Oli) mengatakan bahwa dirinya jarang sekali memasuki ruang ini (pemutar film) dikarenakan akses masuknya yang sulit disebabkan pintu masuk utama dari ruang ini sudah tidak berfungsi lagi. “jika ingin masuk kedalam harus menggunakan tangga atau kursi melalui jendela dengan tinggi kurang lebih dua meter” ungkapnya.

Gedung ini dapat dijadikan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat khususnya anak anak sekolah agar mereka tau, bahwa dipulau kecil ini sudah mengenal teknologi berupa proyektor film jauh sebelum era digitalisasi saat ini. " Mesin proyektor ini terakhir digunakan pada tahun 1970 " pungkas Damanuri.

OZ – ARD, DKISP Kota Tarakan

kembali | Cetak

Berita Terkait


5 (lima) Berita Serba-serbi sebelumnya :

1. STQ Nasional XXIV Mendongkrak Roda Ekonomi [2017-07-21] [dibaca: 142 kali]
2. Antisipasi Serangan Malware Ransomware Wannacrypt [2017-05-18] [dibaca: 119 kali]
3. Pamerkan keindahan ikan air tawar [2017-05-15] [dibaca: 124 kali]
4. Latsidarda XXXVII Pukau warga Tarakan [2017-04-21] [dibaca: 104 kali]
5. Sukhoi SU-27 Flanker Force Down Pesawat Asing [2017-03-16] [dibaca: 191 kali]